Benefits of Banana

9 09 2009

Dear All,

Ada yang jail, mengganti kata “pisang” dengan “petai”,  atau biasa disebut Hoax.

Bayangkan ……

Berikut adalah artikel aslinya.  Saran untuk semua, berhati-hatilah untuk mengutip sebuah artikel.

Subject: Benefits of Bananas
A professor at CCNY for a physiological psych class told his class about bananas. He said the expression “going bananas” is from the effects of bananas on the brain. Read on:

Never, put your banana in the refrigerator!!!
This is interesting.
After reading this, you’ll never look at a banana in the same way again.

Bananas contain three natural sugars – sucrose, fructose and glucose combined with fiber. A banana gives an instant, sustained and substantial boost of energy.

Research has proven that just two bananas provide enough energy for a strenuous 90-minute workout. No wonder the banana is the number one fruit with the world’s leading athletes.

But energy isn’t the only way a banana can help us keep fit. It can also help overcome or prevent a substantial number of illnesses and conditions, making it a must to add to our daily diet.

Baca entri selengkapnya »





Bagaimana Museum dapat se-Atrakfif Mall

8 09 2009

Published in Kumpulan Makalah Seminar Nasional : MUSEUM DI INDONESIA – Mengenali Masa Lalu dan Masa Kini dan Mendatang ; Pusat Penelitian Seni Rupa & Desain; ITB; 2008

Bagaimana Museum dapat se-Atraktif Mall

Didit Widiatmoko Suwardikun

Postgraduate Program, Faculty of Art &Design, Bandung Institute of Technology

Abstract

Museum as a permanent exhibition gallery where the visitor can see, feel and then understand what they seen with the result that they have different perception before and  after journey inside the museum. Museum as a group of milestones supported a concept of history, which a nation could understandable. Museums in Indonesia have less attractive, for that reason we need persuasion strategy in arranging the artifact’s display and information, also promotion for their existence.

Keywords : Persuasion, Display

Abstrak

Museum merupakan galeri pameran permanen yang pengunjung bisa melihat, merasakan dan mengerti apa yang telah dilihat, sehingga pengunjung memiliki persepsi dan pengalaman yang berbeda antara sebelum masuk dan setelah keluar dari museum. Museum juga sebagai tempat kumpulan milestones yang mendukung suatu konsep sejarah, dimana suatu bangsa dapat dipahami melalui sejarahnya. Museum di Indonesia kurang disadari keberadaannya. Untuk itu diperlukan strategi persuasi dalam penataan peragaan dan informasi benda atau artifak  museum maupun promosi tentang keberadaan museum tersebut.

Kata kunci : Persuasi, Peragaan.

Introduksi

Apa yang terlintas dalam benak kita apabila mendengar kata “Museum” ? Museum adalah tempat penyimpanan barang-barang kuno, suram, berdebu dan berbau apek. Bahkan istilah bagi kendaraan, senjata atau peralatan yang sudah tidak bisa dipakai lagi, atau karyawan yang sudah tua, sebutannya adalah “dimuseumkan” sebagai pengganti kata “dibuang”. Museum dianggap sebagai gudang penyimpanan barang-barang bekas yang sudah tidak bisa dipakai lagi. Padahal, menurut Dilthey, manusia hanya bisa dipahami melalui konsep humaniora, tidak dari konsep ilmu alam, dan manusia adalah makhluk yang menyejarah, karenanya hanya dapat diterangkan melaui sejarahnya (Dilthey dalam Kuntowijoyo, 2008:3) Dan sejarah kebudayaan manusia disimpan di museum, benda-benda di museum dapat berperan sebagai milestones dari suatu rangkaian cerita, sehingga menjadi tiang penguat dari keyakinan akan kebenaran suatu cerita sejarah. Musium dapat diperlakukan sebagai sumber data, sebagai buku teks, yang kaya akan data, terutama dari kehidupan masa lalu. Beberapa kelemahan museum adalah penataan yang kurang memikat, dikeramatkan, suram, tidak informatif, demikian pula promosi tentang keberadaan museum hampir tidak pernah ada. Bagaimana mengubah citra museum di benak masyarakat ? (dwd)







Persuasi Visual pada Iklan Rokok.

25 06 2008

Didit Widiatmoko Suwardikun

Persuasi Visual pada Iklan Rokok

Produk Rokok antara Regulasi dan Menyiasati

Hampir dipastikan, akan kita jumpai teks yang berbunyi; ” Merokok Dapat Menyebabkan Kanker, Serangan Jantung, Impotensi dan Gangguan Kehamilan dan Janin”, dalam kotak khusus di tiap kemasan rokok. Ada kandungan – kandungan tertentu seperti Tar dan Nikotin yang berbahaya bagi tubuh, menyebabkan rokok mendapat regulasi khusus. Uniknya walaupun regulasi tersebut dihadirkan dengan tujuan membatasi, dalam prakteknya justru menguntungkan ketika sebuah produk mampu menyiasati dengan konsep-konsep kreatif beriklan baik komunikasi verbal maupun visual.

Rokok biasanya dimasukkan dalam kategorisasi produk-produk yang sensitif. Hal ini berkaitan erat dengan adanya regulasi khusus yang dikenakan terhadap brand tersebut. Produk – produk yang terkategorisasi sebagai produk sensitif meliputi: rokok, kondom pharmaceutical dan alkohol. Dalam dunia praktisi periklanan menyebutnya sebagai produk AKROBAT, akronim dari: Alkohol, Kondom, Rokok dan Obat-obatan. Sebutan tersebut juga mewakili bagaimana biro iklan harus memutar otak ( ber-AKROBAT) dalam menyiasati regulasi-regulasi yang ada.

Baca entri selengkapnya »





Kiat Sukses Menulis Opini

25 06 2008

Kiat Sukses Menulis Opini

Sebagai intelektual muda, kita perlu menyebarluaskan pengetahuan dan gagasan-gagasan kita kepada masyarakat. Akan tetapi kita selalu terbentur oleh masalah menulisnya. Sering ditolak, kehabisan ide, atau bingung menentukan tema yang akhirnya membuat kita malas untuk menulis. Padahal sebenarnya tulisan opini itu bisa dimuat oleh media jika kita telah memenuhi syarat-syaratnya.

Namun sebelum beranjak lebih jauh kita harus mengetahui terlebih dahulu apa itu opini. Ada beberapa jenis naskah yang terdapat di media seperti berita, iptek, profil, kisah, fiksi, opini, dll. Opini merupakan naskah yang mengangkat sikap atau pendapat penulis terhadap topik atau isu yang sedang hangat. Opini bersifat memengaruhi pembaca agar sejalan atau tidak sejalan dengan sikap penulis. Berbeda dengan tulisan-tulisan lainnya opini memiliki beberapa syarat. Ini dia beberapa syarat agar sukses menulis opini.

Baca entri selengkapnya »





POSTER RUSIA

25 06 2008

published in Visual – Jurnal Seni Rupa dan Desain; Vol. 8 No.2; 2006

Didit Widiatmoko Suwardikun

POSTER RUSIA

Tulisan ini dibuat setelah mengamati pameran poster Rusia yang baru-baru ini dipamerkan di Bandung. Poster-poster yang kurang lebih berjumlah 90 buah adalah koleksi dari Dutabesar RI di Moscow, Bapak Susanto Pudjomartono. Bagi pengamat yang sempat mengalami jaman pemerintahan presiden Soekarno, tentu bisa merasakan kehebatan cara visualisasi untuk propaganda pembetukan Nasionalisme, namun bagi pengamat yang dilahirkan pada masa orde-baru tentu kurang merasakan ”gereget” poster-poster ini.

Unsur pembentuk Poster Rusia.

Media poster di Rusia mempunyai beberapa pengaruh dalam pembentukannya. Ada beberapa hal yang mempengaruhinya antara lain adalah tradisi dan pergerakan seni.

Lubok, sebagai tradisi seni grafis sudah ada di Rusia sejak abad ke 17 Cetakan kertas atau kain dari cukilan kayu yang berupa suatu ilustrasi yang disertai teks.

Lubok bisa berisi cerita rakyat, kisah religius atau komentar-komentar sosial. Ia juga bisa berisi lagu, satire sosial, puisi, dan bisa juga berfungsi sebagai pengumuman atau semacam koran.(Pudjomartono, 2006)

Poster woodblock, sebuah tradisi yang telah dibangkitkan kembali dan diadaptasi sebagai alat propaganda jaman perang dunia pertama (1914) di Eropa, sebagai bentuk visual yang dikenal sebagai Rosta Windows, bulletin satu muka, sering berisi ilustrasi komik naratif, sering digantungkan di etalase dan di stasiun kereta-api.

Baca entri selengkapnya »







Thukul atau Reynaldi

20 12 2007

tukul1.jpg

published in Visual – Jurnal Seni Rupa dan Desian; Vol. 09. No.2; 2007

Thukul atau Reynaldi ?

by Didit Widiatmoko

Salah satu pembentukan identitas adalah memberi nama, untuk merek atau perusahaan seperti halnya memberi nama anak, biasanya mengandung harapan yang baik di kelak kemudian hari. Mengapa ada perusahaan dinamai ’Astra’ bukan ’Lintang kemukus’ ? dan mengapa ’Garuda’ dan bukan ’Alap-alap’? Mengapa Mata Elang, dan bukan Lidah Kadal ? Mengapa kita menggunakan nama-nama, mengapa tidak menggunakan angka-angka? Alasannya adalah bahwa semua nama-nama itu mempunyai asosiasi pencitraan. Baik itu secara kultural, linguistik atau personal, karena nama-nama itulah yang menanggung beban psikologis. Kompleksitas dari nama dan asosiasinya adalah seperti suatu bidang tersendiri yang menjadi profesi baru yang pekerjaannya memberi nama perusahaan, produk atau jasa. Baca entri selengkapnya »